Berita Terkini
Home / Berita / Jurnalistik Kali Ini : Suara Siswa

Jurnalistik Kali Ini : Suara Siswa

 

Yup! Ada beberapa esai nih… Yang bertema tentang “Periziznan 6 kali dalm 1 semester.” Esai yang diterbitkan dari salah satu peserta ekstrakulikuler  jurnalistik terbaik. Walau baru pertama kali membuat esai, para peserta sudah lumayan bagus dan mendapat pujian dari Pembina ekstrakulikuler, Ust. Sitta Lc. Yuk simak hasil esainya…

Menjaga Bukan Mengekang

                Seperti yang sudah diketahui sejak siswa dan siswi baru, pertama kali menginjakkan kaki di SMP IT maupun MA Nurul Islam Tengaran. Bahwa izin meninggalkan asrama boleh dilakukan 6x dalam satu semester. Tentunya, dengan serentetan syarat yang harus dipenuhi jika hendak melakukan perizinan.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi siswa/i ketika hendak melakukan perizinan diantara lain: kelahiran atau meninggal, wisuda, aqiqah atau sunatan, dan mengantar atau menjemput haji atau umrah saudara kandung. Tentu saja, siswa/i harus mematuhi pula alur perizinan yang telah menjadi kebijakan pondok yaitu terlebih dahulu izin kepada wali kamar (musyrifah) kemudian meminta tanda tangan kepada petugas piket di kantor kesantrian. Tidak lupa, siswa/i yang izin akan dikenai infaq sebesar Rp2.000,00.

Mungkin terlihat sangat ribet. Awalnya, saya juga berpendapat demikian. Akan tetapi, setelah beberapa bulan saya tinggal di lingkungan pondok ini, mulai tumbuh rasa sadar bahwa kebijakan tersebut memang dibuat untuk menjaga siswa/i dari hal-hal yang merugikan, bukan untuk mengekang.

Apabila perizinan meninggalkan asrama didapat dengan mudah, tanpa serentetan syarat tersebut, mungkin akan menimbul kecemburuan kepada siswa/i lain yang berasal dari daerah-daerah jauh. Siswa/i yang berasal dari daerah dekat dengan pondok dapat dengan mudahnya izin dan mungkin bisa setiap hari izin untuk sekadar menyapa orang tua di rumah, kemudian kembali lagi ke pondok atau malah, ada siswa/i izin dengan alasan yang tidak penting kemudian menyebabkan siswa/i meninggalkan kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut sangat merugikan siswa/i tersebut.

Dengan jatah perizinan dan serentetan syarat tersebut membuat siswa/i mengurungkan niatnya untuk membuat alasan-alasan agar bisa izin meninggalkan asrama. Siswa/i bisa kembali fokus untuk terus belajar, menyelesaikan studi dengan hasil yang memuaskan.

Kebijakan yang dibuat, bukan sembarang ketok palu. Akan tetapi, membutuhkan perundingan panjang dan debat sana-sini. Kebijakan tersebut semoga menjadi kebijakan terbaik untuk siswa/i. Kemudian harus ditaati oleh siswa/i agar menjadi  pribadi yang taat dan berkata jujur sesuai kenyataan. Apakah kemudian, saking kebeletnya izin meniggalkan asrama, siswa/i rela berbohong bahwa saudara kandungnya ada yang meninggal? Tentu tidak.

Nafisa Mujahida Az-Zahra (XI.2)

Nantikan esai tidak kalah menarik dengan tema yang sama, di kesempatan selanjutnya.

Lihat Juga

Hari Sumpah Pemuda

SOEMPAH PEMOEDA Pertama : – KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, …