Berita Terkini
Home / Berita / Ungaran Summit Attack Nurul Islam Student 2018

Ungaran Summit Attack Nurul Islam Student 2018

Menjadi santri yang sehat jasmani dan rohaninya serta mencintai alam ciptaan Allah, merupakan hal yang perlu diperhatikan bagi seluruh santri khususnya santri Ikhwan (lelaki). Nah, demi meningkatkan kesadaran tersebut, kemarin tanggal –  bertepatan dengan Ujian Nasional santri MA Nurul Islam kelas 12 & pembekalan materi UN kelas 9 SMPIT Nurul Islam Tengaran, pihak Yayasan pesantren Sabilul Khoirot bekerjasama dengan para musyrif mengadakan kegiatan yang cukup memacu nyali para santri. Ya, kami menyebutnya dengan Mukhoyyam Al – quran. Namun bukan seperti mukhoyyam pada umumnya yang menggunakan model mabit (menginap) dalam masjid, kali ini menggunakan versi yang lebih menantang yakni hiking mountain (mendaki gunung). Dan lokasi yang kami gunakan sebagai medan jihad kami adalah gunung Ungaran dengan ketinggian kurang lebih 2.050 MDPL yang terletak di daerah jawa tengah. Agenda yang diadakan untuk mengisi liburan santri saat kakak – kakak kelas mereka tengah berjuang menghadapi ujian ini, berupaya menjadikan santri mendapatkan pengalaman mendaki gunung, menjadikan santri menjadi lebih aktif dan sehat secara jiwa dan raga, lebih dekat, lebih peduli dan lebih menyatu dengan alam, serta berupaya untuk mendekatkan diri pada Allah dengan mentadabburi ciptaannya yang luar biasa indah menjulang tinggi ini. Di salah satu artikel majalah karya santri MA Nurul Islam (Ibtisam edisi 3 & 4 ) dalam rubrik Did You Know, juga membahas ciptaan Allah yang satu ini. Serta mengungkap fakta penting hubungan antara penciptaan gunung dalam Al quran. gunung merupakan salah satu ciptaan allah yang berperan penting menjadi pasak bagi bumi sekaligus mengingatkan atas kuasa allah yang maha tingi.

Agenda ini diikuti oleh santri SMPIT kelas VIII dan MA kelas X & XI Nurul Islam Tengaran dengan diawasi para musyrif pendamping. Perjalanan kami mulai dengan breafing & pembukaan sejenak di lapangan komplek NURISTA, kemudian berangkat pukul 08.00 menaiki truk dengan jalur yang berliku sepanjang jalan. Setibanya kami di basecamp awal, kami rehat sejenak sambil menikmati udara yang sejuk dan pemandangan kebun teh disana dan mengabsen anggota per kamar.

Setelah itu kami mulai berangkat kembali menuju lapangan pendirian tenda. Kali ini jalan mulai menanjak naik dan menantang. Banyak rintangan yang kami lalui selama perjalanan ke atas puncak. Sesekali berhenti sejenak untuk meluruskan kaki sambil menikmati pemandangan hijau kebun teh dan pemandangan dari atas ke bawah. Sesekali pula bergantian membawakan perlengkapan per anggota & saling menyemangati untuk terus berjalan, mengajarkan betapa pentingnya kerja keras dan kekompakkan dalam agenda kali ini. Setelah perjalanan cukup panjang sekitar dua setengah jam kami tempuh, kelelahan pun tergantikan dengan pemandangan alam yang begitu elok nan asri. Serta udara sejuk yang memaksa kami untuk mendirikan tenda di sekitar lapangan basecamp kedua ini. Dalam acara mukhoyyam kali ini, benar-benar menuntut kerja sama di setiap aktivitasnya. Seperti memasak sendiri, mengambil air di sumbernya, memasang tenda, mencuci peralatan masak, dan pekerjaan lainnya. Kami melakukan rutinitas biasa seperti shalat serta mengaji dan khusus anak MA ditargetkan tilawah 3 juz. Di malam harinya kami mengadakan acara api unggun dengan penampilan sederhana yang memukau lalu kembali tidur di tenda masing – masing.

Perjalanan masih sangat panjang. Karena itu kami dibangunkan jam satu malam esok harinya untuk melanjutkan pendakian hingga ke puncak. Dibagi 3 kelompok dengan diawasi Dewan Ambalan Kyai Zaenal dan musyrif, kami pun berangkat menuju lokasi puncak gunung Ungaran ini. Perjalanan yang membutuhkan banyak tenaga dan ekstra kesabaran. Kami banyak menemukan jalan bebatuan yang terus meninggi yang harus dipanjat serta jalanan sempit terjal yang harus terus membuat kami siaga dan waspada. Setelah kurang lebih tiga setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di puncak gunung tertinggi gunung ini. Udara di puncak saat itu, begitu menusuk tulang rusuk kami saking dinginnya hingga kami kesulitan untuk istirahat dengan tenang karena terus menggigil (setidaknya latihan bertahan hidup di Eropa kalau melanjutkan studi disana…hehehe). Namun kawan sekalian, ternyata setelah shubuh berjama’ah, keletihan kami terbayar tuntas dengan pemandangan indah dari atas puncak serta ditemani sinar matahari (sunrise) yang mulai muncul menerbitkan kehangatannya. Moment inilah yang kami tunggu bersama (yah…berfoto ria). Tak lupa kami gumamkan dzikir atas segala limpahan rahmat Allah atas karunianya hingga saat ini.

Puas menikmati terbitnya matahari, kami memutuskan untuk kembali ke tenda untuk sarapan. Perjalanan turun ke bawah lebih cepat dari sebelumnya (sekitar satu jam). Namun, kami harus tetap hati – hati atau nanti kami akan terpeleset, tersandung, ataupun jatuh. Sesampainya di tenda, untuk santri SMPIT diperintahkan segera berkemas dan santri MA tetap menetap hingga esok. Ketika santri SMPIT sudah pulang kembali ke pondok, santri MA masih sibuk menyelesaikan target tilawah dan melakukan rutinitas biasanya. Ba’da Asharnya, kami berkunjung ke goa jepang dan ba’da Isya’nya, kami bermain kuis LCC tahfidz. Nah, keesokan harinya kami pun segera bergegas beres – beres dan kembali ke asrama.

Pengalaman kali ini sungguh sangat mengesankan bagi kami. Banyak pelajaran yang amat berharga kami dapatkan dari acara ini mulai dari awal keberangkatan hingga pulang kembali ke asrama. Memang lelah dan memilukan namun, Alhamdulillah dengan adanya agenda ini semakin menguatkan tali persaudaraan kami sebagai sesama muslim dan membuat kami semakin peka pada keadaan alam ini. Mari kita jaga agar bumi kita ini tidak rusak dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak nanti.

Lihat Juga

Longmarch Qur’an, Kuatkan Jasmani dan Rohani.

Sore itu derap langkah para santri yang diiringi dengan senyuman dengan perlahan menyusuri jalan. Langkah …